Menumbuhkan
Mikroba Pada Media Yang Sesuai Dengan Pertumbuhannya.
Terima kasih
karena sudah mengunjungi blog ini. Kali ini saya akan membahas mengenai
inokulasi mikroba yang kita ketahui bersama bahwa mikroorganisme ada banyak di
lingkungan sekitar kita. Karena itu tak jarang suatu produk makanan dengan
mudah terkontaminasi oleh mikroba patogen. Yang kemudian akan menyebabkan
kerusakan pada produk pangan sekaligus dapat menjadi sumber penyakit. Karena kemampuan
yang dimiliki oleh mikroorganisme dalam memecah molekul-molekul yang ada pada
produk pangan. Maka perlu dilakukannya suatu penelitian. Terlebih lagi dengan ukuran mikroba yang sangat kecil sehingga akan sulit untuk
dilihat tanpa menggunakan mikroskop. Sehingga hal tersebut menjadi tolok ukur
untuk melakukan pengamatan tentang
ciri-citri fisik maupun kenampakan mikroba tersebut.
Tujuan utama
dilakukannya inokulasi adalah untuk menumbuhkan mikroorganisme pada medium yang
sesuai dengan lingkungan optimum ia dapat tumbuh. Sehingga dengan begitu akan
mempermudah dalam pengamatan karena berada pada wadah yang sesuai dan mempermudah
untuk diketahui sifat dari mikroorganisme tersebut. Suatu penelitian akan
morfologi mikroorganisme adalah cara untuk menumbuhkan mikroba dengan
dilakukannya suatu metode yang efektif dalam pertumbuhan dan perkembangannya dan
akan kita bahas lebih dalam tentang inokulasi mikroba.
Pada dasarnya
mikroba yang akan diinokulasikan ada yang dapat bertahan hidup dan ada pula
yang tidak. Hal ini disebabkan karena tidak semua mikroorganisme memiliki
kemampuan adaptasi yang sama. Maka dari itu media yang diberikan juga akan
disesuaikan dengan jenis mikroba yang akan ditumbuhkan. Untuk lebih memahami
mengenai inokulasi mikroba maka akan saya jelaskan berikut ini lebih detail
mengenai apa itu inokulasi mikroba dan seperti apa metode-metode yang dapat
dilakukan untuk menginokulasikannya.
Seperti apa itu Inokulasi
mikroba?
Menurut Dwijoseputro (1998) bahwa inokulasi adalah suatu pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Namun terlebih dahulu diusakan agar semua alat
yang berhubungan
dengan medium agar tetap steril, hal ini dilakukan agar menghindari terjadinya
kontaminasi yang kemungkinan akan mengganggu pertumbuhan mikroba yang diinokulasi. Mikroorganisme yang akan
diinokulasi dapat dilakukan dengan berbagai metode untuk menumbuhkannya pada
medium kultur. Beberapa metode yang digunakan untuk menginokulasi suatu mikroba dapat
dilakukan dengan metode gores, metode tebar/sebar, dan
metode tuang, dan metode tusuk.
Pada umumnya metode-metode inokulasi
tersebut dijadikan sebagai cara untuk menumbuhkan mikroba. Namun dalam
inokulasi, metode yang mudah dan efektif dilakukan adalah metode pour plate dan spread plate. Karena proses serta alat yang digunakan tidak begitu
banyak dan mudah dilakukan. Dimana proses dalam menginokulasikan mikroba dapat
dilakukan dengan perlakuan yang sama yaitu dengan pengenceran suspensi.
Sehingga dalam pengamatan maupun mengidentifikasi mikroba akan lebih mudah
karena jumlah mikroba akan semakin berkurang ketika pengenceran yang dilakukan
juga semakin tinggi. Beberapa
metode untuk menginokulasi bakteri sesuai dengan jenis mediumnya. Pada medium
agar t egak, dapat dilakukan metode tusuk menggunakan jarum ose. Pada medium
agar miring, dilakukan metode gores dengan menggunakan loop ose. Pada
medium cawan petri, dapat digunakan metode (streak plate) metode gores, (pour
plate) metode tuang atau (spread plate) metode sebar (Harley dan
Presscot 2002).
Mengapa Susu
Segar Sangat Mudah Rusak ?
Salah satu produk
pangan yang mengandung nilai gizi yang sangat tinggi dan baik untuk pertumbuhan
manusia maupun mikroorganisme adalah susu. Karena susu mengandung komponen yang
dibutuhkan oleh tubuh selama proses metabolisme berlangsung. Komponen yang
terdapat pada susu yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air
serta komponen-komponen di dalam susu yang menjadi salah sumber kebutuhan
metabolisme. Baik itu untuk manusia maupun mikroba. Susu akan sangat mudah
rusak bila terjadi perlakuan fisik yang tidak sesuai. Karena komponen yang
terdapat pada susu akan segera diubah menjadi senyawa-senyawa yang lebih
sederhana oleh mikroba untuk dijadikan sebagai energi dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soewedo Hadiwiyoto (1979) bahwa susu merupakan bahan
biologik. Susu yang baik apabila mengandung sedikit
bakteri dan tidak mengandung spora mikrobia patogen, bersih serta tidak
mengandung debu ataupun kotoran lainnya, mempunyai cita rasa, (flavour yang
baik, dan tidak dipalsukan).
Mikroba yang
dapat menyebabkan pembusukan pada susu adalah mikroba yang terdapat didalam
susu itu sendiri yang kemudian tumbuh dan berkembang secara pesat akibat adanya
kontaminasi. Kerusakan yang terjadi pada susu pada umumnya adalah kerusakan fisik maupun komposisi. Perubahan yang terjadi meliputi warna, rasa, tekstur dan aroma. Karena susu merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroba yang mangandung
berbagai nutrisi maka dengan penanganan yang kurang baik pada susu akan
mempermudah pengembangbiakan pada susu.
Berbagai macam kerusakan yang
terjadi pada susu karena adanya mikroba patogen tersebut. Sehingga sangat
penting untuk menjaga kualitas susu tersebut dengan tidak membiarkannya berada
pada ruang terbuka. Susu juga akan cepat basi apabila susu yang tidak habis di
minum kemudian di simpan pada tempat dengan suhu yang berubah- ubah. Hal ini akan
menyebabkan pertumbuhan mikroba semakin cepat. Maka dari itu untuk mengenal
lebih jauh tentang bagaimana peran ataupun aktivitas yang dilakukan mikroba
sehingga ia dapat merusak susu maka perlu untuk diketahui sifat-sifat dari
mikroba itu sendiri.
Apa Sih Mikroba Perusak
Susu?
Bakteri yang sering terdapat dalam susu adalah jenis bakteri, Escherichia coli, Staphylococcus, dan salmonella. Namun salah satu mikroba
yang ditemukan pada susu adalah bakteri Escherichia
coli. E.coli yang merupakan
bakteri Gram negatif, berbentuk batang dan tidak membentuk spora. Salah satu
indikasi yang menandakan bahwa susu terkontaminasi oleh Escherichia coli yakni diketahui pada saat pemasaran, susu tersebut
menimbulkan gas ketika kemasan dibuka. Selama proses pengangkutan sebaiknya dilakukan
pendinginan susu (cold cain).
Pendinginan susu
bertujuan untuk menahan mikroba perusak susu agar tidak berkembang, sehingga
susu tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini
berarti suhu lingkungan pada susu perlu untuk diperhatikan agar tidak terjadi
kerusakan. Penangan serta penyimpanan yang baik akan meminimalisir kerusakan
ataupun kontaminaasi oleh mikroba. Olehnya itu perlu dilakukan pemanasan berupa
pasteurisasi atau sterilisasi. Dengan pemanasan akan memungkinkan matinya Escherichia coli, karena bakteri
tersebut termasuk bakteri yang rentan terhadap pemanasan serta tidak
menghasilkan spora. sehingga dengan pemansan diharapkan jumlah Escherichia coli pada susu dapat negatif
(tidak ada).
Susu dapat rusak
akibat adanya Escherichia coli yang
berasal dari kotoran hewan atau manusia. Jadi, adanya Escherichia coli dalam air minum maupun susu menunjukkan bahwa
pernah terkontaminasi feses manusia dan mungkin mengandung patogen usus. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Fardiaz (1992), bahwa jenis Escherichia, Enterobacter atau
yang dikenal dengan Aerobacter dan klebsiella disebut sebagai kelompok
bakteri koliform dan sering dijadikan sebagai uji sanitasi air dan susu.
Apa saja metodenya....?
Metode
Sebar (Spread Plate)
Metode spread plate adalah
suatu teknik dalam menumbuhkan mikroba pada media agar dengan cara menuangkan
stok kultur bakteri atau menghapuskannya di atas media agar yang telah memadat. Pada
beberapa pinggiran akan
muncul koloni koloni yang terpisah-pisah. Setetes inokolum diletakan dalam sebuah
medium agar. Nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca
yang bengkok dan steril Nutrient agar terlebih dahulu di
tuang lalu diberi mikroba. Inokulasi
disebarkan dalam medium batang yang sama dengan menginokulasikan pinggan kedua
untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik (Winarni, 1997).
Metode Tuang (Pour Plate)
Metode pour plate adalah dilakukan dengan cara
menuangkan inokulum dan bahan yang dijadikan sebagai media pertumbuhan bagi
mikroba pada cawan petri secara bersamaan. berarti
bahwa kultur
dicampurkan ketika media masih dalam keadaan cair (belum memadat). Kelebihan
teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian
permukaan media agar yang dibuat. Metode tuang dilakukan dengan 2 cara,
yaitu dengan mencampur suspensi bakteri dengan medium agar pada suhu 50ÂșC
kemudian menuangkannya pada cawan petri atau dengan menyemprotkan suspensi pada
dasar cawan petri, kemudian menuang medium agar dan diaduk. Setelah agar mengeras,
bakteri akan berada pada tempatnya masing-masing dan diharapkan bakteri tidak
mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal.
Inkubasi itu
adalah.....
Setelah dilakukan metode-metode pemindahan untuk
menumbuhkan mikroba dilakukan lagi dengan menginkubasi mikroba. Inkubasi merupakan
suatu proses pemeliharaan mikroorganisme yang telah diinokulasi dalam kurun
waktu tertentu dengan suhu yang telah ditetapkan sehingga mikroba dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik. Mikroba yang telah diinokulasi akan mendapatkan
kondisi suhu yang sesuai dengan lingkungan optimum mikroba tumbuh. bahwa inkubasi adalah dikenakannya suatu
kondisi (terutama pada suhu) yang baik bagi pertumbuhan terhadap biakan-biakan
mikroorganisme. Irianto (2006). Setelah dilakukannya tahapan-tahapan tersebut
maka dapat diamati pertumbuhan yang terjadi pada mikroba yaitu adanya beberapa
inokulum yang tumbuh pada medium agar.
Maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Suatu
media berfungsi sebagai lingkungan baru bagi mikroba untuk dapat hidup.
2. Pengenceran bertingkat bertujuan mempermudah pertumbuhan
mikroba dengan kesesuaian antara perkiraan jumlah mikroba yang ditumbuhkan
dengan jumlah yang akan mengalami pembelahan,
3. Serta dengan dilakukannya suatu teknik dalam inokulasi akan
menunjang pertumbuhan suatu mikroba dan meminimalisir kegagalan pertumbuhan
pada mikroba.
DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro. 1998. Biologi – Jilid 2.ed.2. Jakarta : Erlangga
Fardiaz
srikandi.1992. Mikrobiologi Pangan 1
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Harley
dan Presscot. 2002. Laboratory
Exercise in Microbiology. USA : McGraw-Hill
Publisher
Irianto.
K. 2006. Menguak
Dunia
Mikroorganisme Jilid 1.
Bandung : CV. Yrama Widya.
Jay, J. M.
2005. Modern Food Microbiology. 6th
Edition. Maryland : Aspen Publishers. Inc.
M.Natsir Djide dan Sartin.
2016. Dasar-dasar Mikrobiologi Farmasi.
Makassar : Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas).
Pelczar dan
Chan. 2007. Analisis Mikroba pada Inokulasi . Edisi Kelima.
Jakarta : Erl angga.
Prescott, 2009. Comprehensive Tutorial and Reference.
New Jersey : Prentice Hall.
Rambaut. 2005. Dasar-Dasar Gizi
Kuliner. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Stewart CM and Cole MB. 2004. Reinterpretation of microbial survivor
curves. In Bulletin of the International Dairy Federation No. 392/2004,
Proceedings of an International Workshop on Heat Resistance of Pathogenic
Organisms. International Dairy Federation, Brussels.
Winarni, D. 1997. Diktat Teknik
Fermentasi. Surabaya : Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS.
Keren, sangat bermanfaat
BalasHapuswah makasih infonya
BalasHapus