Kamis, 18 Mei 2017

Bagaimana Cara Mengetahui Jumlah Mikroba Yang Memiliki Ukuran Sangat Kecil Atau Dikenal Dengan Perhitungan Mikroba

Menghitung mikroba ??? yakin bisa...?
Apakah kita bisa menghitung jumlahnya???
Bagaimana cara menghitungnya??? Pake tangan, kalkulator ?
Trus Untuk apa dihitung ??? kurang kerjaan kali......

Semua pertanyaan-pertanyaan itu mungkin muncul di benak kita saat ini. Namun perlu kita ketahui bahwa mikroba dapat dihitung. Meskipun ukurannya sangat kecil namun dengan menggunakan suatu metode maka hal itu akan mempermudah proses perhitungannya.

Mikroba yang akan dihitung tentunya disimpan pada suatu wadah terlebih dahulu yang kemudian akan mempermudah dalam peninjauan untuk dilakukan pengamatan nantinya. Olehnya itu perlu kesabaran yah teman untuk mempermudah pekerjaan kita....

Oh iya, menyimpan mikrobanya juga tidak asal memindahkannya saja. Karena mikroba perlu suatu wadah yang pas baginya agar dapat bertahan hidup. Maka dari itu untuk lebih tahu bagaimana wadah yang sesuai bagi mikroba, terlebih dahulu silahkan membaca blog ku yang berjudul “ Sterilisasi Dan Media Pertumbuhan Yang Sesuai Bagi Mikroorganisme”. Jangan lupa yahhh..

Setelah mengetahui jenis media yang sesuai bagi mikroba. Teman-teman juga perlu tau bagaimana cara memindahkannya pada media yang juga saya bahas lebih detail pada blog ku dengan judul “Menumbuhkan Mikroba Pada Media Yang Pas Dalam Pertumbuhannya”.

Nah kalo teman-teman telah membacanya saya rasa teman-teman bisa tau media seperti apa yang cocok bagi mikroba dan bagaimana memindahkannya. Jadi langsung saja saya bahas bagaimana cara menghitung jumlah mikroba yang akan kita teliti.

Pertama kita harus tau. apa itu pertumbuhan ??

Seperti kita ketahui bahwa Pertumbuhan adalah suatu proses yang akan terjadi pada setiap makluk hidup baik itu uniseluler maupun multiselular. Suatu makhluk hidup akan mengalami pertumbuhan sebagai ciri dari kehidupan.

Pertumbuhan dapat diartikan sebagai penambahan. Penambahan apa maksudnya..?  penambahan yang dimaksud disini adalah penambahan, ukuran, jumlah bobot, massa, dan banyak paramaeter lainnya dari suatu  bentuk hidup. Penambahn ukuran atau massa suatu sel individual biasanya terjadi pada proses pendewasaan (maturasi).

Secara umum mikroba yang telah ditumbuhkan dalam suatu medium dan telah terjadi pembelahan akan membentuk koloni pada cawan dan dapat dilakukan perhitungan. Perhitungan jumlah mikroba dilakukan agar dapat diketahui banyaknya mikroba yang dapat tumbuh pada bahan sampel yang telah ditentukan.

Sehingga, pada tahap ini dapat diuraikan jumlah mikroba yang kemungkinan terdapat pada sampel bahan serta kemampuannya dalam berkembang biak. Hal ini dilakukan agar mikroba pada bahan pangan dapat diperkirakan jumlahnya.

Bila diinginkan mikroba pada produk pangan itu banyak, maka pengenceran yang dilakukan cukup sedikit saja. Karena kita ketahui bahwa ada mikroba yang penting berada pada produk pangan. Namun bila mikroba tidak diinginkan ada pada produk pangan maka diperlukan pengenceran yang lebih tinggi.

Pada umumnya Produk pangan yang mengandung mikroba sangat banyak akan dilakukan pengenceran. Sehingga dari pengenceran tersebut dapat diperkecil jumlah mikroba pada produk pangan yang kemungkinan akan merusak kualitas produk pangan tersebut.

Maka dari itu dilakukan beberapa metode baik itu melalui metode menghitung secara langsung maupun tidak langsung.

Nah,,, Apa lagi itu metode langsung dan tidak langsung ???

Kalo metode langsung mungkin kita cukup melihatnya saja dan menghitungnya. Tapi kalo metode tidak langsung,, apakah kita menghitungnya Cuma di hayalkan saja ???

Lagi-lagi ada pertanyaan yang kemudian membuat kita bingung. Jadi, Perhitungan secara langsung berarti menghitung jumlah koloni pada media secara keseluruhan yaitu perhitungan jumlah koloni yang dilakukan secara total, baik itu yang masih hidup maupun yang telah mati. Karena pada proses ini dikenal dengan cara hemositometer. Serta Perhitungan dilakukan juga menggunakan mikroskop.

Sebaliknya pada perhitungan jumlah mikroba secara tidak langsung berarti dilakukan perhitungan pada mikroba yang masih hidup saja atau metode hitungan cawan. Nama gaulnya sih,,, “TPC (Total Plate Count)” yaitu dengan menghitung semua jumlah koloni pada media

TPC (Total Plate Count) adalah metode perhitungan jumlah koloni secara tidak langsung. TPC merupakan metode yang dapat dilakukan tanpa menggunakan mikroskop. Karena koloni pada mikroba akan tumbuh pada media agar dan memiliki kenampakan yang cukup jelas dari media.

Sehingga untuk menghitungnya akan lebih mudah ketika dilakukan perhitungan pada cawan. Metode ini disebut juga metode hitungan cawan. Mikroba yang telah ditumbuhkan pada media agar akan dihitung untuk disesuaikan dengan jumlah perkiraan mikroba yang dapat tumbuh pada tiap ml sampel.

Jadi, sekarang sudah tau kan perbedaan keduanya..? kalo belum tau baca terus berulang-ulang sampai mengerti. Hehehe...

Selanjutnya kita bahas.....

Apa yang mempengaruhi jumlah mikroba yang tumbuh pada cawan ?

Jadi, yang mempengaruhinya itu ada banyak. Misalnya suhu, jumlah air, kebutuhan nutrisi, oksigen yang terdapat pada media dan lain sebagainya. Namun, kali ini yang paling utama dalam memperkirakan jumlah mikroba yang akan tumbuh setiap cawannya itu bergantung pada pengenceran yang dilakukan.

Pengenceran adalah suatu bentuk memperkecil jumlah mikroba yang tersuspensi pada sampel dengan penambahan larutan fisiologis pada larutan. Sehingga dapat memperkecil jumlah mikroba. Karena terkadang terdapat beberapa sampel yang mengandung lebih atau kurang dari perkiraan sehingga dari pengenceran yang dilakukan akan mengalami penurunan jumlah mikroba pada larutan yang diencerkan.

Maka dari pengenceran itu kita bisa memperkirakannya lebih mendekati jumlah yang ada pada sampel. Barulah dilakukan lagi perkiraan mikroba yang masih terdapat mikroba pada sampel 1 ml. kemudian dilakukan inkubasi agar mikroba mulai melakukan aktivitasnya pada lingkungan yang telah disiapkan. Dengan begitu kita akan memperkirakan lagi kemungkinan mikroba yang akan tumbuh pada lingkungan dan waktu yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA 

Fardiaz srikandi.1992. Mikrobiologi Pangan 1 Jakarta : Gramedia Pustaka. Utama
Irianto. K. 2006 Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. Bandung : CV. Yrama Widya




Sterilisasi Dan Media Yang Sesuai Bagi Pertumbuhan Mikroorganisme

Sterilisasi Dan Media Yang Sesuai Bagi Pertumbuhan Mikroorganisme

Pengertian Sterilisasi
 Sterilisasi adalah suatu proses membunuh mikroba yang terdapat pada suatu alat maupun bahan makanan sehingga dapat diminimalisir adanya kontaminasi. Dimana dapat dipahami bahwa mikroba pada umumnya ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan.

 Mikroba yang menguntungkan sering kita jumpai pada produk makanan khusunya pada susu fermentasi yang memiliki bayak manfaat bagi tubuh. Sedangakan mikroba yang merugikan ini sering kali dijumpai pada produk yang telah terkontaminsi dan mikroba jenis ini dikenal dengan istilah patogen.

Adanya mikroba patogen di lingkungan sekitar khususnya pada produk pangan akan berdampak pada kualitas dari produk pangan itu sendiri sehingga produk tersebut menjadi tidak layak konsumsi. Sterilisasi kemudian yang menjadi suatu cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir adanya mikroba patogen.

 Karena populasi dari mikroba yang sangat banyak dan tempat tinggal yang berbeda-beda misalnya dalam darah, sampah, makanan, air, dan tanah yang menyebabkan kontaminasi sangat mudah terjadi. Sehingga diperlukan keadaan steril untuk memusnahkan mikroba.

Hal tersebut kemudian dijadikan sebagai tolok ukur dalam menentukan cara untuk mensterilisasikannya, maka diperlukanlah beberapa metode baik itu secara fisik, kimiawi, maupun mekanik.

Sterilisasi dengan metode-metode tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam bahan alat maupun instrumen. Sterilisasi kimia dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa desinfektan seperti senyawa alkohol, fenol, hidrogen, feroksida, aldehid, klor, iodium atau sublimat serta senyawa desinfektan lainnya.

Namun bahan yang pada umumnya digunakan adalah alkohol 70 %. Di mana pada bahan ini memiliki kemampuan dalam mendehidrasi sel karena sifatnya yang mudah menguap sehingga menyebabkan kekeringan pada sel. Senyawa ini dapat pula mendenaturasi protein karena sifat hidrofilik pada etanol yang kemudian mengganggu peran protein di dalam sel dan menghambat kerja protein.

 Kemudian alkohol juga memiliki kemampuan dalam melarutkan membran lipid pada sel sehingga dinding sel akan rusak karena sifat hidrofobik yang dimiliki dan menyebabkan pertahanan membran lipid pada sel akan terganggu pula.

Dari proses-proses tersebutlah yang kemudian membuat sel mikroorganisme tidak dapat tumbuh dengan baik. Bahkan untuk mempertahankan hidupnya pun ia memerlukan kerja yang maksimal.
Pada sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen seperti autoclave, bunsen, microwave serta berbagai instrumen yang memanfaatkan kalor dalam proses sterilisasi yang akan membuat mikroorganisme tidak mampu bertahan dalam keadaan panas. Instrumen yang dapat digunakan salah satunya adalah autoclave.
 Kemampuan yang dimiliki oleh autoclave yaitu dengan penggunaan tekanan 1 atm, serta suhu 121oC dalam waktu 15 menit ia mampu membunuh mikroorganisme hingga ke endospora suatu mikroba. Karena panas yang terdapat dalam ruang autoclave yang akan membuat mikroba tidak mampu mempertahankan diri dalam suhu yang sangat tinggi.

Kekuatan membunuh oleh uap air panas disebabkan pada saat kondensasi, pada bahan yang disterilisasi dilepaskan sejumlah besar panas latent yang kemudian dapat membunuh mikroorganisme hingga ke spora-spora yang dimilikinya.

Pada sterilisasi mekanik dilakukan dengan filtrasi dimana alat yang digunakan adalah penyaring yang memiliki ukuran pori-pori 0,45 mikron atau bahkan lebih kecil dari itu dan mampu menyaring mikroba yang terdapat dalam suatu larutan.

 Ukuran penyaring yang lebih kecil dari ukuran mikroorganisme pada umumnya akan membuat mikroba kesulitan untuk lolos dalam penyaringan. Karena pada dasarnya sterilisasi mekanik dilakukan ketika bahan makanan atupun minuman yang akan mengalami kerusakan bila terkena panas.

Olehnya itu untuk memperoleh keadaan steril tersebut dilakukan beberapa tahap dalam menyaring mikroba yang terdapat pada larutan dengan menggunakan penyaring berpori besar, sedang, hingga yang paling kecil. Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi penyumbatan saat proses penyaringan berlangsung. 

Pertumbuhan mikroorganisme

Mikroba tidak untuk dibunuh saja, namun ia juga perlu untuk ditumbuhkan pada suatu media. Agar dapat diperoleh biakan suatu mikroba yang memiliki peran penting dalam produk pangan sekaligus untuk dilakukan pengamatan pada mikroorganisme.

Sehingga dapat diketahui perkembangan maupun sifat yang dimiliki oleh mikroorganisme tersebut. Berbagai jenis mikroorganisme yang ada di muka bumi. Sehingga untuk menumbuhkannya diperlukan suatu media yang memenuhi kebutuhan hidup dari mikroorganisme tersebut.

Nutrisi yang terkandung pada suatu medium akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan serta perkembangan pada mikroba ketika nutrisi tersebut sesuai dengan nutrisi yang terdapat pada media optimum ia tumbuh. Medium yang menyediakan nutrisi bagi mikroba disebut medium kultur.

Berbagai macam media tempat mikroba dapat tumbuh salah satunya pada media semi sintesis. Media semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti. Media semisintesis yaitu media yang digolongkan berdasarkan kandungannya.

 Media semisintesis adalah media yang dibuat dengan bahan alami. Contoh media semisintesis ini yaitu, Tauge agar dan kentang agar. Media kentang agar adalah salah satu media pertumbuhan yang cocok bagi mikroorganisme jenis khamir dan kapang.

 Karena kandungan karbohidrat yang dimiliki cukup tinggi sehingga menjadi nutrisi yang tepat bagi pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Dimana bahan alaminya yaitu kentang, sedangkan bahan sintesisnya yaitu dextrose, bacto agar, dan aquades. Contoh mikroorganisme yang ditumbuhkan adalah Aspergillus sp  dan Mucor sp).

Terdapat pula media yang dikenal dengan media sintesis. Media yang dibuat dengan bahan buatan serta bahan alami. Dimana media sintesis yaitu media yang digolongkan berdasarkan kandungannya yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti.

Contoh media tersebut adalah PDA, PCA, dan NA. Salah satu jenis media sintesis adalah media PCA yaitu media yang memiliki fungsi sebagai wadah perhitungan jumlah mikroba dari makanan, air dan limbah dengan mengidentifikasi semua bakteri yang tidak spesifik.

 Media PCA ini baik untuk mengetahui pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan substansi nitrogen kompleks lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.

 Komposisi dari PCA yaitu : kasein hidrolisat enzim 5 gr, extak khamir dextrose 1 gr, dan agar 15 gr. Pada media ini semua jenis bakteri,virus, fungi, dan protozoa dapat ditumbuhkan pada media.


DAFTAR PUSTAKA

Barnett, H. L. dan Hunter B. B. 1998. Ilustrated Genera of Modern Plant Pathology. New Delhi.
Dwidjoseputro,D. 1990. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Fardiaz, S.1992. Mikrobiologi Pangan 1 Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Irianto, K. 2006 Mikrobiolog Menguak Duna Mikroorganisme Jilid 1. Bandung : CV. Yrama Widya
John, I. P. Dan A. D. Hocking. 2009. Fungi and Spoilage. Edisi 3. Penerbit : Springer
Pelczar, dan Michael. 1986. Dasar- Dasar Mikrobiologi Jakarta : Universitas Indonesia.
Stuck, P.C. 2008. Privace to special issue on latte belight and genetic modification. Potato Res. Vol.51: 1-3


Rabu, 17 Mei 2017

Menumbuhkan Mikroba Pada Media Yang Sesuai Dengan Pertumbuhannya.

Terima kasih karena sudah mengunjungi blog ini. Kali ini saya akan membahas mengenai inokulasi mikroba yang kita ketahui bersama bahwa mikroorganisme ada banyak di lingkungan sekitar kita. Karena itu tak jarang suatu produk makanan dengan mudah terkontaminasi oleh mikroba patogen. Yang kemudian akan menyebabkan kerusakan pada produk pangan sekaligus dapat menjadi sumber penyakit. Karena kemampuan yang dimiliki oleh mikroorganisme dalam memecah molekul-molekul yang ada pada produk pangan. Maka perlu dilakukannya suatu penelitian. Terlebih lagi dengan ukuran mikroba yang sangat kecil sehingga akan sulit untuk dilihat tanpa menggunakan mikroskop. Sehingga hal tersebut menjadi tolok ukur untuk melakukan pengamatan tentang ciri-citri fisik maupun kenampakan mikroba tersebut.
Tujuan utama dilakukannya inokulasi adalah untuk menumbuhkan mikroorganisme pada medium yang sesuai dengan lingkungan optimum ia dapat tumbuh. Sehingga dengan begitu akan mempermudah dalam pengamatan karena berada pada wadah yang sesuai dan mempermudah untuk diketahui sifat dari mikroorganisme tersebut. Suatu penelitian akan morfologi mikroorganisme adalah cara untuk menumbuhkan mikroba dengan dilakukannya suatu metode yang efektif dalam pertumbuhan dan perkembangannya dan akan kita bahas lebih dalam tentang inokulasi mikroba.
Pada dasarnya mikroba yang akan diinokulasikan ada yang dapat bertahan hidup dan ada pula yang tidak. Hal ini disebabkan karena tidak semua mikroorganisme memiliki kemampuan adaptasi yang sama. Maka dari itu media yang diberikan juga akan disesuaikan dengan jenis mikroba yang akan ditumbuhkan. Untuk lebih memahami mengenai inokulasi mikroba maka akan saya jelaskan berikut ini lebih detail mengenai apa itu inokulasi mikroba dan seperti apa metode-metode yang dapat dilakukan untuk menginokulasikannya.

Seperti apa itu Inokulasi mikroba?
Menurut Dwijoseputro (1998) bahwa inokulasi adalah suatu pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Namun terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang berhubungan dengan medium agar tetap steril, hal ini dilakukan agar menghindari terjadinya kontaminasi yang kemungkinan akan mengganggu pertumbuhan mikroba yang diinokulasi. Mikroorganisme yang akan diinokulasi dapat dilakukan dengan berbagai metode untuk menumbuhkannya pada medium kultur. Beberapa metode yang digunakan untuk menginokulasi suatu mikroba dapat dilakukan dengan metode gores, metode tebar/sebar, dan metode tuang, dan metode tusuk.
Pada umumnya metode-metode inokulasi tersebut dijadikan sebagai cara untuk menumbuhkan mikroba. Namun dalam inokulasi, metode yang mudah dan efektif dilakukan adalah metode pour plate dan spread plate. Karena proses serta alat yang digunakan tidak begitu banyak dan mudah dilakukan. Dimana proses dalam menginokulasikan mikroba dapat dilakukan dengan perlakuan yang sama yaitu dengan pengenceran suspensi. Sehingga dalam pengamatan maupun mengidentifikasi mikroba akan lebih mudah karena jumlah mikroba akan semakin berkurang ketika pengenceran yang dilakukan juga semakin tinggi. Beberapa metode untuk menginokulasi bakteri sesuai dengan jenis mediumnya. Pada medium agar tegak, dapat dilakukan metode tusuk menggunakan jarum ose. Pada medium agar miring, dilakukan metode gores dengan menggunakan loop ose. Pada medium cawan petri, dapat digunakan metode (streak plate) metode gores, (pour plate) metode tuang atau (spread plate) metode sebar (Harley dan Presscot 2002). 

Mengapa Susu Segar Sangat Mudah Rusak ?
Salah satu produk pangan yang mengandung nilai gizi yang sangat tinggi dan baik untuk pertumbuhan manusia maupun mikroorganisme adalah susu. Karena susu mengandung komponen yang dibutuhkan oleh tubuh selama proses metabolisme berlangsung. Komponen yang terdapat pada susu yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air serta komponen-komponen di dalam susu yang menjadi salah sumber kebutuhan metabolisme. Baik itu untuk manusia maupun mikroba. Susu akan sangat mudah rusak bila terjadi perlakuan fisik yang tidak sesuai. Karena komponen yang terdapat pada susu akan segera diubah menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana oleh mikroba untuk dijadikan sebagai energi dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soewedo Hadiwiyoto (1979) bahwa susu merupakan bahan biologik.  Susu yang baik apabila mengandung sedikit bakteri dan tidak mengandung spora mikrobia patogen, bersih serta tidak mengandung debu ataupun kotoran lainnya, mempunyai cita rasa, (flavour yang baik, dan tidak dipalsukan).
Mikroba yang dapat menyebabkan pembusukan pada susu adalah mikroba yang terdapat didalam susu itu sendiri yang kemudian tumbuh dan berkembang secara pesat akibat adanya kontaminasi. Kerusakan yang terjadi pada susu pada umumnya adalah kerusakan fisik maupun komposisi. Perubahan yang terjadi meliputi warna, rasa, tekstur dan aroma. Karena susu merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroba yang mangandung berbagai nutrisi maka dengan penanganan yang kurang baik pada susu akan mempermudah pengembangbiakan pada susu.
Berbagai macam kerusakan yang terjadi pada susu karena adanya mikroba patogen tersebut. Sehingga sangat penting untuk menjaga kualitas susu tersebut dengan tidak membiarkannya berada pada ruang terbuka. Susu juga akan cepat basi apabila susu yang tidak habis di minum kemudian di simpan pada tempat dengan suhu yang berubah- ubah. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan mikroba semakin cepat. Maka dari itu untuk mengenal lebih jauh tentang bagaimana peran ataupun aktivitas yang dilakukan mikroba sehingga ia dapat merusak susu maka perlu untuk diketahui sifat-sifat dari mikroba itu sendiri.

Apa Sih Mikroba Perusak Susu?
Bakteri yang sering terdapat dalam susu adalah jenis bakteri, Escherichia coli, Staphylococcus, dan salmonella. Namun salah satu mikroba yang ditemukan pada susu adalah bakteri Escherichia coli. E.coli yang merupakan bakteri Gram negatif, berbentuk batang dan tidak membentuk spora. Salah satu indikasi yang menandakan bahwa susu terkontaminasi oleh Escherichia coli yakni diketahui pada saat pemasaran, susu tersebut menimbulkan gas ketika kemasan dibuka. Selama proses pengangkutan sebaiknya dilakukan pendinginan susu (cold cain).
Pendinginan susu bertujuan untuk menahan mikroba perusak susu agar tidak berkembang, sehingga susu tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini berarti suhu lingkungan pada susu perlu untuk diperhatikan agar tidak terjadi kerusakan. Penangan serta penyimpanan yang baik akan meminimalisir kerusakan ataupun kontaminaasi oleh mikroba. Olehnya itu perlu dilakukan pemanasan berupa pasteurisasi atau sterilisasi. Dengan pemanasan akan memungkinkan matinya Escherichia coli, karena bakteri tersebut termasuk bakteri yang rentan terhadap pemanasan serta tidak menghasilkan spora. sehingga dengan pemansan diharapkan jumlah Escherichia coli pada susu dapat negatif (tidak ada).
Susu dapat rusak akibat adanya Escherichia coli yang berasal dari kotoran hewan atau manusia. Jadi, adanya Escherichia coli dalam air minum maupun susu menunjukkan bahwa pernah terkontaminasi feses manusia dan mungkin mengandung patogen usus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fardiaz (1992), bahwa jenis Escherichia,  Enterobacter atau yang dikenal dengan Aerobacter dan klebsiella disebut sebagai kelompok bakteri koliform dan sering dijadikan sebagai uji sanitasi air dan susu.

Apa saja metodenya....?
Metode Sebar (Spread Plate)
Metode spread plate adalah suatu teknik dalam menumbuhkan mikroba pada media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau menghapuskannya di atas media agar yang telah memadat. Pada beberapa pinggiran akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah. Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar. Nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril Nutrient agar terlebih dahulu di tuang lalu diberi mikroba. Inokulasi disebarkan dalam medium batang yang sama dengan menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik (Winarni, 1997).



Metode Tuang (Pour Plate)
Metode pour plate adalah dilakukan dengan cara menuangkan inokulum dan bahan yang dijadikan sebagai media pertumbuhan bagi mikroba pada cawan petri secara bersamaan. berarti bahwa kultur dicampurkan ketika media masih dalam keadaan cair (belum memadat). Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian permukaan media agar yang dibuat. Metode tuang dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencampur suspensi bakteri dengan medium agar pada suhu 50ÂșC kemudian menuangkannya pada cawan petri atau dengan menyemprotkan suspensi pada dasar cawan petri, kemudian menuang medium agar dan diaduk. Setelah agar mengeras, bakteri akan berada pada tempatnya masing-masing dan diharapkan bakteri tidak mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal.

Inkubasi itu adalah.....
Setelah dilakukan metode-metode pemindahan untuk menumbuhkan mikroba dilakukan lagi dengan menginkubasi mikroba. Inkubasi merupakan suatu proses pemeliharaan mikroorganisme yang telah diinokulasi dalam kurun waktu tertentu dengan suhu yang telah ditetapkan sehingga mikroba dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Mikroba yang telah diinokulasi akan mendapatkan kondisi suhu yang sesuai dengan lingkungan optimum mikroba tumbuh.  bahwa inkubasi adalah dikenakannya suatu kondisi (terutama pada suhu) yang baik bagi pertumbuhan terhadap biakan-biakan mikroorganisme. Irianto (2006). Setelah dilakukannya tahapan-tahapan tersebut maka dapat diamati pertumbuhan yang terjadi pada mikroba yaitu adanya beberapa inokulum yang tumbuh pada medium agar.

Maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Suatu media berfungsi sebagai lingkungan baru bagi mikroba untuk dapat hidup.
2.    Pengenceran bertingkat bertujuan mempermudah pertumbuhan mikroba dengan kesesuaian antara perkiraan jumlah mikroba yang ditumbuhkan dengan jumlah yang akan mengalami pembelahan,
3. Serta dengan dilakukannya suatu teknik dalam inokulasi akan menunjang pertumbuhan suatu mikroba dan meminimalisir kegagalan pertumbuhan pada mikroba.

DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro. 1998. Biologi – Jilid 2.ed.2. Jakarta  : Erlangga
Fardiaz srikandi.1992. Mikrobiologi Pangan 1 Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Harley dan Presscot. 2002. Laboratory Exercise in Microbiology. USA  : McGraw-Hill Publisher
Irianto. K. 2006. Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. Bandung : CV. Yrama Widya.
Jay, J. M. 2005. Modern Food Microbiology. 6th Edition. Maryland : Aspen Publishers. Inc.
M.Natsir Djide dan Sartin. 2016. Dasar-dasar Mikrobiologi Farmasi. Makassar : Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas).
Pelczar dan Chan. 2007. Analisis Mikroba pada Inokulasi . Edisi Kelima. Jakarta : Erl angga.
Prescott, 2009. Comprehensive Tutorial and Reference. New Jersey : Prentice Hall.
Rambaut. 2005Dasar-Dasar Gizi Kuliner. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Stewart CM and Cole MB. 2004. Reinterpretation of microbial survivor curves. In Bulletin of the International Dairy Federation No. 392/2004, Proceedings of an International Workshop on Heat Resistance of Pathogenic Organisms. International Dairy Federation, Brussels.
Winarni, D. 1997. Diktat Teknik Fermentasi. Surabaya :  Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS.

Bagaimana Cara Mengetahui Jumlah Mikroba Yang Memiliki Ukuran Sangat Kecil Atau Dikenal Dengan Perhitungan Mikroba Menghitung mikroba ?...